Minggu, 23 Januari 2011

Salah satu anggota tim Indonesia

Banyak pendaki yang berhasil menaklukkan puncak gunung di dunia. Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita, bagaimana mereka -maaf- melakukan buang air besar.

Salah satu anggota tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU), Broery Andrew Sihombing (21) menceritakan pengalamannya selama mendaki lima puncak gunung di dunia. Seperti yang dilakukan Tim Indonesia Seven Summits Expedition ke tujuh gunung tertinggi di dunia.

"Kalau buang air setiap gunung memiliki peraturan-peraturan sendiri. Selama pendakian tidak pernah membawa air, pakai tisu saja," kata Broery, salah satu anggota tim, dalam perbincangan dengan VIVAnews.com di Senayan, Jakarta, Minggu 23 Januari 2011.

Broery bersama Sofyan Arief Fesa (27), Xaverius Frans (23), dan Janatan Ginting (37) sukses mendaki gunung-gunung berkaliber tinggi di dunia, antara lain, Carstensz Pyramid (4.884 meter dari permukaan laut/dpl) pada Februari 2009, Indonesia (Australasia) dan Kilimanjaro (5.895 mdpl) pada Agustus 2010 di Kenya, Afrika.

Selanjutnya, Elbrua (5.642 mdpl) di Rusia, Eropa pada Agustus 2010 dan Vinson (4.897 mdpl) di Antartica pada Desember 2010, serta Anconcagua (6.962 mdpl) di Argentina (Amerika Selatan) pada Januari 2011.

Berikut peraturan resmi dan 'tidak tertulis' bagi pendaki yang telah mencapai puncak-puncak gunung itu:

1. Puncak Cartensz Pyramid.
Di puncak ini para pendaki tidak terlalu sulit untuk membuang air. Karena tidak terlalu ketat peraturannya, jadi bisa di mana saja. "Kalau di Cartensz, bisa di mana saja," kata Broery.

2.Puncak Kilimanjaro.
Di puncak ini di setiap camp yang dilalui oleh pendaki sudah disediakan WC. Jadi, para pendaki tidak terlalu kesulitan. "Di Kilimanjaro, fasilitas masih OK," ujar Broery.

3. Puncak Elbrus.
Di puncak ini, bila masih berada di base camp ada WC. Sementara itu, di high camp sudah tidak disediakan kamar mandi. Namun, disediakan sebuah spot yang berupa tumpukan batu yang dibentuk menjadi sebuah kotak untuk para pendaki melakukan pendakian.

4. Puncak Vinson.
Para pendaki tim Indonesia Seven Summits berpendapat bahwa puncak Vinson yang memiliki peraturan paling ketat untuk masalah buang air. Dari mulai start sampai base camp, kamar mandi berasal dari tumpukan es yang di bawahnya ada kotak untuk menampung.

Mulai dari base camp hingga puncak dan balik lagi, para pendaki diwajibkan membawa plastik. Plastik ini digunakan untuk menampung kotoran yang dikeluarkan. Plastik berisi kotoran ini harus dibawa kembali oleh para pendaki saat turun nanti, dan tidak boleh ditinggal.

"Kalau plastik kotoran ini ditinggal, akan kena denda. Dendanya bisa mencapai ribuan dolar," kata Broery. Nantinya, kantung ini dikumpulkan dan ditempatkan di base camp, lalu diangkut pesawat.

Untuk buang air kecil juga ada aturannya di puncak ini. Di setiap camp dan tiap di tengah camp biasanya diletakkan tanda berupa bendera hitam yang di bawahnya ada lubang yang disediakan untuk para pendaki membuang air kecil. Dan tidak boleh melakukan di tempat lain.

5. Puncak Aconcagua.
Sementara itu, peraturan buang air di puncak Aconcagua hampir mirip dengan puncak Vinson. Yaitu harus membawa plastik untuk menampung kotoran dan harus dibawa kembali. Hanya, di puncak Aconcagua ini pendaki dapat lebih leluasa untuk buang air kecil.

Jumat, 07 Januari 2011

Isidorus Lilidjawa SFil

Isidorus Lilidjawa SFil yang merupakan anggota DPRD Kota Kupang, dalam satu pekan terakhir ini diteror oleh pihak tak dikenal. Pelaku melakukan pelemparan terhadap rumah dan kendaraan dinas korban sampai rusak. Motif perusakan diduga terkait tugas dan tanggung jawab korban.

Kasus teror ini sudah dilaporkan kepada Polres Kota Kupang. Namun, pihak kepolisian setempat belum berhasil mengungkap pelaku teror tersebut.

Isidorus Lilidjawa yang dihubungi di Kupang, Jumat (7/1/2011) malam, mengatakan, aksi teror terjadi pada Selasa (4/1/2011) dan dilanjutkan pada hari Rabu (5/1/2011), berupa pelemparan terhadap rumah tinggalnya di Perumahan Artha Graha Kupang, serta pelemparan terhadap mobil dinas yang dikendarainya.

"Kejadian awal saya pikir hanya orang iseng atau kebetulan. Tetapi, peristiwa itu berlanjut pada hari berikutnya, juga terhadap rumah tinggal saya, dan mobil sampai kaca mobil retak-retak," katanya.

Peristiwa pelemparan itu dilakukan pada malam hari. Pada peristiwa itu Isidorus mencoba keluar rumah, memantau situasi di sekitar rumahnya, tetapi tidak menemukan orang di sekitarnya. Pelaku diduga sudah melarikan diri dengan menggunakan sepeda motor.

Merasa tidak aman, Isidorus pun melapor ke Kepolisian Resor Kota Kupang. Namun, aparat kepolisian belum menangkap pelaku terror itu.

Menurut Isidorus, aksi teror itu diduga terkait tugas-tugas yang ia jalankan sebagai anggota DPRD. "Mungkin saya terlalu vokal memperjuangkan aspirasi masyarakat, atau bertolak belakang dengan sejumlah kebijakan pemerintah, atau berseberangan pendapat dengan sesama anggota Dewan lainnya. Tetapi yang jelas, saya merasa tidak aman setelah kejadian itu. Saya minta perlindungan polisi," katanya.

Ia menjelaskan, apa yang diperjuangkan di lembaga itu semata-mata demi kepentingan warga Kota Kupang. Ia mengaku tidak punya musuh dengan siapa pun, kecuali berdialog, berdebat, dan berargumentasi di lembaga itu soal kepentingan masyarakat. Demikian catatan online Admincollections tentang Isidorus Lilidjawa SFil.

Rabu, 05 Januari 2011

Mengalihkan isu

Jaksa penuntut umum (JPU) menilai terdakwa Gayus Halomoan Tambunan, melalui tim penasihat hukumnya, telah Mengalihkan isu dengan menyebut adanya pengerdilan perkara. Isu itu, menurut JPU, hanya untuk membuat bias empat perkara yang menjerat Gayus.

Demikian dikatakan Rhein Singal, salah satu JPU, saat membacakan jawaban atas pembelaan Gayus atau replik di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (5/1/2011).

"Penasihat hukum menarik proses di sidang ke ranah yang sama sekali di luar dakwaan. Ini bukti kepiawaian terdakwa Gayus memutarbalikkan fakta guna membangun opini seolah-olah dirinya tak pantas dihukum dan bangsa Indonesia harus berterima kasih atas jasa-jasanya," ucap Rhein.

Dalam replik, JPU mengingatkan bahwa Gayus didakwa empat perkara, yakni korupsi saat menangani keberatan pajak PT Surya Alam Tunggal, suap ke penyidik, suap ke hakim, dan memberikan keterangan palsu terkait asal-usul uang Rp 28 miliar miliknya. Dakwaan itu, kata JPU, tidak ada hubungannya dengan dugaan mafia pajak senilai Rp 28 miliar.

"Kasus itu (mafia pajak) merupakan perbuatan pidana terpisah yang penanganannya dilakukan secara tersendiri," kata Rhein.

Untuk diketahui, dalam pleidoi, tim pengacara Gayus mempertanyakan belum terungkapnya kasus mafia pajak di Direktorat Jenderal Pajak yang merugikan negara ratusan triliun rupiah meskipun Gayus telah memberi banyak informasi berbagai modus para mafia pajak. Selain itu, tim juga menyebut perkara yang saat ini bergulir adalah rekayasa lantaran asal-usul uang Rp 28 miliar milik Gayus belum diungkap. Demikian catatan online Admincollections tentang Mengalihkan isu.